May 25, 2008

Tersenyumlah

Sejak senja tadi kawan

Di langit tersusun rasi kerlip siluetmu

Hm… hangat… tak pernah sepi di dalam sini

Sayup denting lagumu… mengisi

Terimakasih… adalah awalnya

 

Hingga kulihat hujan di pagi hari

Sejuk… lembut… semuanyapun diam

Kudengar dentingan manis itu kian menggema

Tak ingin kutolak lagi:  K  e  p  a  s  t  i  a  n

Yang tersungging di bibirku… setelah itu

 

***

 

 

Saya terperangah. Gak nyangka, bisa bersua lagi dengan kertas surat berisi puisi ini.

 

Sudah 10 apa 11 tahun yang lalu. Puisi yang sengaja saya tulis untuk seorang teman, yang katanya ingin ‘nyatain’ sama seorang gadis yang disukainya. Tapi nyatanya, puisi ini malah saya temukan di dalam hadiah ulang tahun dari dia buat saya. Waktu itu reaksi saya heran plus kesal. Sudah capek-capek dibikinkan kok malah dikembalikan?

 

Hmm… alangkah naifnya saya :p

 

Maaf. Saya kok merasa lucu membayangkan reaksi dia waktu itu. Mungkin dia dan sobatnya yang berisik itu hanya geleng-geleng kepala melihat ketololan saya. Lalu saat ia tertunduk sedih, sobatnyapun lalu sibuk mengusap-usap punggungnya seraya berucap, “Suatu saat dia akan mengerti… dia akan mengerti…”

 

Yeah guys… Akhirnya saya mengerti, sekarang. Setelah perjalanan takdir merentangkan raga kita, tsunami menyapu kampung halamanmu, dan tanah menimbun sahabat kita. Namun tidak di benak ini.

 

Saya masih ingat saja saat dia menyuruh mengulang lagi wudhu saya yang kebetulan terlihat olehnya. “Basuh tangan tuch mesti sampe sikut!”, titahnya dengan kening berkerut.

 

Sama seperti saya selalu ingat pada sobatnya yang berisik itu, yang telah mengajari saya sujud syahwi. “Subhaanalladzii laa yas-hu walaa yanam… makanya kalo sholat jangan sambil mikirin seniormu itu,” omelnya sambil ngejogrok ngudut di ruang santai.

 

Sang Penyayang telah menghadirkan mereka dalam satu babak kehidupan saya dulu, namun ternyata bukan untuk menjadi imam saya. Mereka sepasang sahabat yang tanpa rencana telah membantu menyempurnakan tuntunan awal dan akhir sholat saya. Mereka berinvestasi dalam setiap sholatku yang diterima-Nya (apalagi yang jumlah rakaatnya lupa ;p).

Yup. They were my male-angels.

 

Mungkin kenaifan saya kala itu adalah berkah.

 

Karena setelah peristiwa puisi dodol itu kami masih bisa bersama, tertawa.

Puluhan kupu-kupu beterbangan di sekitarku, dia, dan sobatnya.

 

Karena seperti jawabku padanya dulu pada pertanyaan curi-curinya saat kami bercanda di bawah saung:

 

“Mm… aL, Kalo elo... mungkin gak pacaran sama orang kayak guwa?”, selidiknya sambil 'tertawa'.

 

Sayapun menjawab kalem.

 

“Elu kurang tinggi.”

 

 

 

 

Bandung, 26 May 2008

                            

April 15, 2008

OKan’s Business part 1

Belakangan ini hujan rutin mengguyur kota Bandung setelah lewat jam makan siang. Saya sih gak takut dengan air yang datang dari atas. Yang saya hindari justru yang datang dari bawah. Siapa sudi merendam kaki dalam air keruh sarat kutu air dan lumpur lekat nan sentimen mengancam putusnya tali sendal kulitku? 

 

So, usai menukar sendal baru Okan yang kekecilan di Yogya Kepatihan, sayapun bergegas naik angkot jurusan Kalapa-Buahbatu menuju Bandung selatan.

 

Langit mulai mendung, namun payung pink berry ¥500 dalam tasku berkomplot dengan nafsu baca membaca buku. Saya terbujuk mampir menyebrang ke pasar buku murah Palasari.

 

Secara gak sengaja, saya telah dengan sadis menawar harga buku Laskar Pelangi hingga setengahnya. Belakangan saya baru tahu harga aslinya di toko buku. Maaf ya aa’ penjual buku (pantesan senyumannya tampak begitu miris saat transaksi). Tapi kan saya udah janji akan beli sequelnya di situ kalo buku pertamanya bagus (tetralogy pula, wah siap-siap bangkrut :p). And I think I will ;)

 

Saya pun berjalan kaki menuju area sekolah Gagas Ceria di jalan Malabar.

Gedungnya masih berwarna monokrom kuning sama seperti guratan pensil warna saya di kopian lembar tampak eksteriornya, sepuluh tahun yang lalu. Saya sudah lama tau bahwa rumah-rumah tetangga juga telah diakuisisi, bahkan pabrik hantu di seberang jalan sudah menjelma menjadi bangunan SD yang modern dan dipenuhi murid2 berseragam putih merah.

Saya masih ingat saat Kak Santi dan Mbak Iyos berbusa-busa meladeni pertanyaan para orangtua dan kakek-nenek calon murid angkatan pertama. Pemandangan di depan saya saat ini bikin saya angkat topi untuk mereka. Segala yang bertujuan baik akan didukung oleh semesta. Indonesia haus akan pendidikan berkualitas.

 

Kebetulan saat kedatangan saya bersamaan dgn jam bubaran kelas playgroup. Sayapun tersadar utk kembali melangsungkan niat saya menjambangi tempat itu.

Walau tanpa janji sebelumnya, tanpa kesulitan reuni saya dan sahabat2 peng-Gagas Ceria berlangsung, diiringi deras hujan yg pecah di luar bangunan SD.

 

Berangkat dari info saya mengenai keterlambatan OKan berbahasa, Kak Santi mengantarkan saya membuat janji dengan seorang dokter ahli tumbuh kembang di yayasan Indigrow yang menjadi rekanan GC.

 

Gedungnya menempel di belakang bangunan TK GC, berwarna selaras kuning monokrom. Saya jadi teringat saat sang arsitek memprotes pilihan warna saya. Katanya tidak sesuai dengan konsep desain ‘hommy’ pada umumnya.

Well, menimbang lokasi perumahan yang adem dan rimbun pepohonan, saya hanya berpendapat gedung ini membutuhkan sentuhan warna yang eye catching, yang memberi info kilat pada kendaraan lewat bahwa ini adalah sebuah tempat bagi anak-anak yang playfull, ceria, ramah, dan bukanlah sebuah rumah hunian. Desain bangunannya yang cantik, gak perlu diganggu lagi dengan gambar-gambar kartun atau binatang seperti taman bermain pada umumnya. Terlalu banyak warna primer hanya akan memberi kesan komersil yang membuat enggan. So, kuning monokrom is the best solution. Client pun mengangguk pada pikiran seorang mahasiswi interior ketimbang arstitek profesional tersebut.

 

Sambil berjingkat menghindari sisa-sisa hujan, Kak Santi bercerita bahwa sampai saat ini mereka sering menerima kunjungan dari para arsitek yang berkomentar, “Ini adalah bangunan berkonsep anak-anak, yang tidak kekanak-kanakan.”

Bagi saya pribadi, mengetahui kenyataan bahwa warna tersebut tetap dipertahankan hingga 10 tahun berlalu, sudah cukup membuat dada ini bungah.

 

Dokter yang bersangkutan ternyata sedang hanamian ke Tokyo. How ironic gak seehh?? Apalagi antrian pasien ternyata cukup panjang di buku jadwal sang dokter. Tanggal 6 Mei terlalu lama bagi saya untuk menunda mengetahui kondisi tumbuh kembang OKan dari observasi langsung ahlinya. So, saya sebaiknya segera mencari alternatif lain.

 

Hujan yang tak lagi mengancam dan jalur angkot yang kebetulan lagi-lagi membuat saya singgah dulu di toko cheesecake favoritku. Rum raisin cheesecake dan chocolate lava cheesecake pun masuk kantong keresek.

Perjalanan lanjut ke bank saya di jalan Riau guna mengupgrade buku tabungan yang udah abis titip diprintin bokap. Lalu perut yang menderita membuat saya dengan senang hati mampir melahap nasi gulai usus di restoran padang langganan dulu waktu masih berkantor di belakang Polresta Bandung Tengah.

Dipikir-pikir, kok hari ini lebih banyak menyangkut urusan saya daripada OKan yak, kekeke…

 

 

To be or not to be…

(to be continued maksudnya ;p)

 

 

 

Bandung, 7 April 2008

March 26, 2008

bukan puisi

matahari mulai bergeser dari lintang nol derajat

hujan deras dan angin menggila

semua terbang dan terendam

 

aku menggali dan menggali

dengan cakar-cakar kecilku

mencari kubur gurita

 

“sedang apa kamu di sini?”

suara serak menyeruak

dari sebuah lubang berkerak

 

“itu elu ya?”

kusipitkan mata sembabku

kukenali siluet kepala bulatnya

 

bantalan kakiku meredam langkah

akupun terebah lelah

bergelung serta memejam

 

dia masih menunggu jawabannya

sorot matanya menghujam kelopak mataku

memaksaku membuka mulutku

 

“gw sekarang tinggal di sini sama elu.”

kurubah posisi kepalaku

membelakanginya

 

“kenapa dengan dunia atas?”

nada suaranya tinggi

dia memang bisa juga keras

 

“lolongan gw pada bulan, udah seperti minyak tumpah di pelabuhan.”

“itu kan sudah biasa, dan bisa diatasi.

so, what are you doing here?”

 

ekorku mengibas

“as you see.”

“i don’t like to see what i see.”

 

aku mulai kesal

“cerewet sekali sih lu? just enjoy it will ya?”

“pemandangan yang kamu suguhkan sama saya sama sekali gak menarik!”

 

telingaku berdiri

hatiku masih bisa merasakan sakit rupanya

“iyaa… bulu gw udah pada rontok, kumis gw pendek, dan mata gw belekan!”

 

“dasar kucing liar penyakitan!”

terdengar tawanya terkekeh

mengasihaniku

 

“apa yang kamu harapkan dari saya?

kata-kata manis?

studi banding?

 

asal kamu ingat saja.

kita ini,

tidak sama.

 

di dunia atas saya berjaya.

dari sinipun,

saya masih bisa membuat pelangi bercahaya.

 

sedang kamu

bagai pestisida,

yang meracuni tanah kubur saya!”

 

taringku mendesis

akupun berdiri dengan kuku-kukuku

betapa perih kata-kata yang mengiris dari dalam

 

what have I done?

mencari kekuatan dari sesosok bangkai?

astaga, betapa memilukannya diriku!

 

“dasar tolol!

apa bagusnya pelangi bercahaya buat elu?

lu udah mampus!”

 

gurita itu balas mengamuk dengan seluruh kakinya

menggelosorkan tanah di antara kami

menyisakan sebuah celah

 

aku masih bisa mendengar

pesannya padaku

berbisik menggema

 

“kalau saya jadi kamu,

saat ini saya ada di pantai biru,

bersama pinguin-pinguin saya..”

 

aku tersadar

betapa tega aku mengusiknya

dengan luka kecilku

 

“biarkan gw di sini plis..

gw hanya menunggu musim semi yang tepat,

dan kembali lahir jelita.”

 

aku mendapat jawaban

sebuah celah

yang tertimbun tanah

 

maka kutinggalkan cap bantalan kakiku

di dinding kuburnya

dan kembali menggali ke atas

 

saat teraba tanah basah,

aku tahu aku hampir sampai

namun aku terhenti

 

aku menoleh

pada dinding-dinding pekat

yang membungkusku rapat

 

hm..

betapa hangat

ketiadaan ini

 

cakar-cakar kecilkupun kembali menggali terowongan-terowongan baru

tidak ke atas

tidak pula ke bawah

 

mungkin aku bukan lagi seekor kucing yang takut air

mungkin aku sudah menjelma menjadi

seekor tikus tanah

 

 

 

Shonandai, March 2008

 

March 14, 2008

Sayonara, Hanami

April adalah bulan istimewa bagi orang Jepang. Puncak musim semi, di mana luruhnya bunga ume terganti oleh keindahan bunga sakura, mekarnya tsubaki, dan tulip2 import dari Horanda. Awal semester baru, sekolah baru, pekerjaan baru, apato baru, biasanya dimulai pada bulan shigatsu ini.

Berakhirnya musim dingin yg menggigit, yg membuat malas mandi, apalagi tanpa adanya spirit natal, kado tahun baru dan doki-doki valentinan utk melewatinya *piss men*, merupakan saat yg sungguh saya nanti2kan. Udah gak sabar rasanya melepas jaket tebal dan daleman heat tech yg saya kenakan. Udah gak kuku rasanya utk menggilir kaos2 simple dan sendal2 saya yang hampir setengah tahun ini hanya menuh-menuhin lemari. Belum lagi koleksi2 terbaru, hwaaahhh... terbayang sudah keriaan sepanjang musim semi hingga musim panas nanti. Tapi...

Tahun ini, saya gak akan sempat melihat permukaan sungai Hijikawa yang tertutup rata oleh kelopak bunga sakura. Saya gak akan di sini saat angin membuat hujan sakura lokal di jalan yg biasa saya lewati. Saat pendamba sakura berdatangan dari segala penjuru bumi, maka saya justru akan pergi.

Ya, saya akan pulang. Saya harus segera mengobservasi oKan yg terlanjur bicara bahasa planet. Analisa sementara oKan hanya bingung bahasa. Semoga gak aneh-aneh semacam autisme atau gifted child segala rupa. Dia bukan anak yg anti sosial, dan siapapun gak sudi melakukan kontak mata kalo sedang merasa bosan, betul? Tapi sebaiknya memang perlu diobservasi, dan saya pikir lingkungan berbahasa Indonesia sangat dibutuhkan oleh oKan saat ini. Lebih cepat lebih baik. Jadi, kami akan pulang. Saya dan oKan.

Motivasi lain tentu saja ada. Selain kenyataan bahwa setahun kemarin Jepang ternyata bukan untuk saya, I desperately need more time and more space for my self to do my own things. Apapun hal2 tak penting asalkan bisa membuat saya bahagia. A happy mom would make a happy child, aight?   

So, semua demi oKan. Dan paNda? Yeah, you japanese gals atawa yg campuran could dying trying, cause paNda akan saya titipkan sama Boss besar. And me? Yeah, um going to be his talking frog for years, and he’s going to love me more because of it, bwakakaka... hhh... naseeb kawin ma geek... (hehe, pis paNda, do me tonight ‘k? *wink*).

Jya, sayonara hanami (cherry blossom viewing)... haru (spring)... Icha, mbak Indah, teman2 suamiku, sensei2 nihongo-ku di MIF, para okasan di taman2 bermain, wanwan-chan, uta-chan, dan koto-chan (tiga yg terakhir titipan oKan ;p). Mina-san, hontouni iro-iro osewani narimashita.

Arigatou...

 

“Apakah kau pernah merasakan, lava yang bergejolak di ulu hatimu, sementara angin musim dingin justru membuat kornea matamu beku? Lalu saat putik sakura mulai merekah, jiwamu justru mengkristal bagaikan salju. Dingin, keras, keropos. Bahkan saat kau duduk di bawah pohon sakura yang tengah rontok, telapak tanganmu malah menangkap sehelai daun kering coklat yang rapuh, rangup. Sama seperti perasaan Troy saat memandang sungai yang tertutup helai kelopak sakura mati, perlahan hanyut menuju laut. Bagai sisik naga, menggelosor tenang tanpa emosi. Membawa pergi halusinasinya yang berwujud sebuah sampan, tempat sang kekasih terbujur diam, lengkap dengan bayangan phoenix yang melintas di atas jasadnya.”

 

From my unpublished novel, “Bell of Dragon’s Love”. Hh, kapan yak kamu lahir sayang?

 

 

Shonandai, Maret 2008

February 20, 2008

I want to go

I want to go

I want to go

On a trip, a trip

Some where…

 

Mendadak kepala saya berdenging. Rengekan si oKan yg gak mau ditinggal bapaknya berlanjut dgn jeritan2 dari dalam kamar mandi. Konsentrasi saya buyar sudah. Script novel-yg-rencananya-akan-saya-bikin-animaticnya dan kelak-filmnya-akan-saya-sutradarai-sendiri-itu baru sampai satu halaman. Langsung saya usir laki-laki itu pergi dan meneruskan ritual memandikan si kecil dgn cara yg dia suka.

 

May be an island, island

Blue sky and sea

On an island – island – island…

May be…

 

Di luar tampak cerah, meskipun dingin. Mood utk kembali ke buku corat-coret saya tadi terkapar luka. Segenap kemampuan zen saya kerahkan utk kembali menstabilkan genangan aura yg mudah terciduk ini.

 

I want to go

I want to go

On a trip, a trip

Some where…

 

Lihat, si oKan sudah tenang, wangi, dan cakep. Saya ingin mengajaknya mandi matahari, ya, meskipun dingin. Tapi hari ini Shonandai terlalu sempit buat saya.

 

May be a mountain, mountain

White snow and trees

On a mountain – mountain – mountain…

May be…

 

Kaos kaki penguin oranye si kecil menginjak kursi densya dan tubuhnya merapat ke jendela. Wajahnya tampak senang menyisiri pemandangan sepanjang Sotetsu Line. Yup, Yokohama, here we come!


I want to go

I want to go

On a trip, a trip

Some where…

 

Roda baby car oKan mengesot di lantai gedung stasiun Yokohama. Join Us!, Takashimaya, West exit area. Kami lunch dgn shrimp-mayo-nya Kono Pizza (pizza cone) dan donat macha-nya Doughnout Plant. Ya, kali ini bukan spagheti, paela, udon, tempura dan sejenisnya.

Habis refill, si pangeran kecilpun kembali bertahta di atas kereta kencananya yg mulai sempit. Naluri mengarahkan saya ke East exit, Vervex, lalu menyebrang ke tunnel Diamond menuju Hiyodobashi.

 

May be a ROCKET, ROCKET

Bright moon and stars

On a rocket – rocket – rocket…

Maybe…

 

Matahari menyingkir sudah. Kaki ini sudah lelah. oKan sudah lama gelisah. Tapi saya gak ingin pulang. Saya sedang gak ingin pulang. Hati saya melarang. Pikiran saya yang mengalah. Belum masak. Duit abis. Tambah dingin. Hak sepatu boot saya pun melangkah. Naik densya Yamato, transfer ke densya Shonandai di Futamatagawa. Pulang.

 

All around the world, there are places I want to go…

All around the world, there are people I want to know…

 

Saya gak ingin pulang. Tidak ke tempat itu lagi. Lihat, tempat itu semakin dekat. Tapi saya kan sedang gak ingin pulang? Diamlah, dasar cengeng.

 

I want to go…

 

Laki-laki itu sudah lebih dulu sampai di tempat itu. Dia sedang menutup rolling door jendela. Saya serahkan si oKan padanya. Juga tas belanjaan berisi sweater wool dan air protection jacket barunya. Ya, kali ini bukan utk saya maupun si kecil.

 

I want to go…

 

Saya biarkan laki-laki itu makan dengan sisa lauk semalam. Saya celupkan tubuh saya ke ofuro hangat bercampur serbuk wangi midori. Saya pijati betis-betis saya. Saya pejamkan mata saya. Lama.

 

I want to go...


Somewhere…

 

 

 

Shonandai, 18 Feb 2008

Text song was taken from ‘Eigo de asobo’ NHK television program for children

 

 

 

 

 

 

 

 

 

February 04, 2008

Hanya menumpang

Ketika kita memikirkan anak kita, maka kita gak bisa hanya berpikir tentang dia. Bagaimana dgn teman-temannya? Gurunya? Lingkungannya? Masa depannya?

 

Ketika kita mulai berpikir tentang dunia, manusia, maka kita selalu dikembalikan pada asal muasal kita. Dari negara mana? Bangsa mana? Pernah makan roti?

 

Setahun saya tinggal di negeri orang. Negara maju yg memiliki segalanya.

Setahun menikmati fasilitas yg mempermudah hidup sehari-hari.

Monorel on time, fending machine, lift dan eskalator di tiap stasiun, toilet umum bersih yg gak bayar lagi dan selalu bertisu.

Keamanan 24 jam, kebebasan berpenampilan tanpa intaian kriminil ataupun suitan pengangguran di jalanan.

Akses informasi ter-update, sign system yg ramah, dan segala urusan surat2 ijin tanpa pungli. Bahkan warga asing turut menerima dana tunjangan hidup utk anak.

 

Betapa praktisnya. Sungguh nyaman.

Tapi saya hanya menumpang.

 

Pemerintah Jepang sudah melapangkan trotoar dan menyingkirkan segala kerikil2 dlm perjalanan warganya menuju tempat bekerja dan beraktivitas.

Silakan berpikir tentang hal2 penting saja. Leptop setipis amplop, mobil listrik, robot pelayan, tomat rasa coklat, dan baling2 bambu.

 

Negara sudah membuat aturan struktur bangunan utk rumah dan gedung anti gempa.

Ayo, tinggalkan rumah dan pergilah shopping ke pertokoan. Belilah perabotan mahal agar tak mudah rusak dan kalian tak perlu sering2 keluar uang utk membuangnya. Pilihlah pakaian tercantik yg kalian suka. Be kawaii as hell.

Tenang, kita gak memboroskan sumber daya alam kok. Toh sisanya kita lempar ke pasar asia tenggara.

 

Jangan lupa, boronglah komik juga, main ke pachinko, dan minum2 ke bar.

Maaf, memang harga2 di sini sedikit mahal, tapi petani dan nelayan kita gak ada yg miskin.

Dengan berbelanja dan menikmati hidup, kita berbuat baik, karena roda perekonomian negara kita dan jg dunia akan terus berputar. Pajak mengalir ke kas negara kita.

Nanti sebagian kita sumbang utk pendidikan anak2 sekolah negara miskin yg menyanyikan lagu potong bebek angsa itu.

Nanti kita bangun jalur2 monorel lg ke sini dan ke sana. Para pengusaha property bersiaplah utk membangun mansyon2 dan mall2 baru di stasiun2 baru.

 

Betapa optimisnya. Begitu bergairah.

Dan sy ini sekali lg, hanya menumpang.

 

Semua faslitas ini, semua kenyamanan ini, dibuat pemerintah Jepang ya utk warganya. Untuk orang Jepang. Untuk anak2 Jepang. Mereka yg hapal huruf kanji Jepang dan menghormat saat bendera Jepang dikibarkan.

 

Saya heran, negara sekecil pulau Jawa ini, begitu banyak mengimport TKI dari negara sy. Sementara di Jawa sendiri msh buanyak sekali pengangguran.

 

Bila tiba saatnya Jepang gak lg membutuhkan TKI dan malah membanjiri dunia dgn robot2 manusianya, sy ngeri membayangkan bencana pengangguran di negara sy di masa yg akan datang.

Lalu anak sy, si oKan, harus ikut bersikut-sikutan di antara mereka.

Maklum sy bukan dari kalangan bisnisman tajir atau keluarga pejabat berkoneksi yg bisa menjamin keturunan sy mendapat pekerjaan impiannya.

 

Namun kalau kita semua berpikir putra2 bangsa yg pintar selalu punya tempat di luar negeri, lalu apa jadinya negara saya?

 

Kenapa sih kita gak bikin aja hujan emas di negri sendiri?

Gimana caranya biar sy jg bisa merasakan kenyamanan yg sama di negara saya?

 

Kan gak enak numpang terus. Malu!

 

 

 

Shonandai, Februari 2008

 

January 31, 2008

Ibu Rumah Tangga

Memang, saya pribadi masih sulit menyebut diri sy sebagai seorang ibu rumah tangga. Bukan menganggap gak elit, justru sebaliknya. 

Menurut sy, istilah ibu rumah tangga itu bagaikan gelar yg pantas disandang setelah terbukti kemampuannya mengurus keluarga dan pernik-pernik rumah tangganya.

Sementara sy ini dalam strata pengalaman ke-ibu-erte-an baru kelas Nol Besar. Kalo masak masih harus sambil ngintip resep, ngurus anak satu aja udah jungkir balik, dan sy masih hobi membanjiri suami dgn keluh kesah.

Apa profesi mulia ini memang menuntut adanya bakat? Atau sy aja yg masih kurang ikhlas menjalaninya? Entahlah.

Yang jelas, saat tahun lalu sy memutuskan utk ikut suami hijrah ke negri orang sini, diawali dgn niat untuk hidup mandiri bersama keluarga sendiri. Jadi ratu di rumah sendiri, bermodal hidup dgn pendapatan (suami) sendiri, dan menikmati kebersamaan sebagai mamah dan papah muda bersama seorang bayi lutu dalam suka dan duka.

 

Dalam setahun ini, di sini, urusan dapur yg seumur hidup kemarin menjadi urusan ibu saya, koki2 restoran dan warung makanan, bener2 dikembalikan kepada sy. Tentu saja ditambah dgn porsi utk anak dan suami. Belum lagi urusan domestik lainnya.

Memang kalo boleh memilih sy lebih suka urusan tersebut dikerjakan oleh org lain. Namun kenyataannya saat ini sy tidak punya pilihan lain. Saya seolah diharuskan belajar bersabar dan meyakinkan diri bahwa ini mungkin adalah satu fase yg harus sy lewati dlm kehidupan sy.

 

Satu hal yang kini sy pahami: saya jadi lebih menghargai ibu saya, yang telah membaktikan diri menjadi seorang ibu rumah tangga semenjak beliau menikah.

 

Semenjak beranjak remaja, sy memang salah satu anak ibu yg palling suka bikin emosi. Di saat kami bertengkar, ngga sekali terlontar penyesalan ibu krn nggak menyekik sy ketika masih bayi dulu (hehe, ibu sy bisa-bisanya melucu. Mana tega sih menyakiti bayi lemah nan imut ini walau seujung kuku?).

Saya juga sering menyesalkan kenapa ibu saya dulu berhenti dari profesinya sbg bidan. Kan keren punya mama wanita pekerja? Toh dulu ada si Etek (bibi dlm bahasa Minang) yg mengurusi kita-kita waktu masih kecil.

Jelas sy blum ngerti bahwa mengurusi 4 anak kecil (+suami) dgn seorang pembantu saja benar2 menuntut energi turbo luar binasa.

Si Etek sendiri sudah janda, dan memiliki 6 org anak yg harus ia nafkahi.

Jelas betapa beruntungnya sy karena msh nikmat diurus oleh ibu sendiri. Lha, anak2 si Etek itu?

 

Saya kini menyadari, betapa kuatnya ibu sy dulu.

Seorang gadis berusia 20 tahun, mungil, cerigis, suka pake terusan mini dan topi lebar, dan tukang ngudut, lagi asik2nya menikmati uang sendiri di keramaian kota Jakarta. Namun demi menghindari perselingkuhan dgn seorang dokter ganteng beristri, ibu lebih suka menerima pinangan adik bungsu kepala perawatnya, yg baru saja dikenalnya. Merekapun hijrah ke belantara hutan Sumatra yg saat itu baru saja dibuka utk komplek perumahan pegawai perusahaan penambang emas hitam.

 

Ibuku pernah bercerita saat ia ngidam pingin jajan baso yg saat itu belum ada di kota Duri. Ibu saat itu baru belajar masak. Dulu selama tinggal di asrama perawat, makanan sudah disediakan, jadi tau beres. Sementara kota Duri jaman itu belum seramai sekarang. Jadi sbg orang Sunda yg suka jajanan, ibuku jelas menderita. Belum lagi rasa kesepian, rindu dgn teman2 dan keluarga di pulau Jawa.

Saya masih inget waktu kecil dulu suka mengganggu ibu saat lg asik nge-break di radio kabel (ORARI, tapi ibu jg suka main di ‘kolong’ ;p). Persis seperti si oKan yg suka mengganggu sy saat lg seru2ya chating di internet sama teman2.

Padahal mungkin ibu hanya ingin sejenak membebaskan pikiran dari segala urusan rumah tangga. Mengusir rasa sepi, bergaul, break... breaker... yanki charlie five november kilo lima di-roger... gaaannti!

Hm, dipikir-pikir memang kehidupan yg sy jalani saat ini gak jauh beda dgn yg dialami oleh ibu saya.

 

Jadi pingin cerita. Dulu, ehem, sy pernah menyudahi satu kisah, karena sy gak mau diboyong ke tempat ia bekerja dan menjalani hidup yg sempat sy anggap ‘mengerikan’ seperti jadi ibu rumah tangga. Saya gak mau mengalami kesepian seperti ibu sy, atau segala gosip yg beredar di kalangan istri2 karyawan (plis deh, kotanya sama2 di Duri lage ;p).

Saya bahkan pernah berkelakar, “Saya mau jadi ibu rumah tangga, tapi di Jepang!

(negara itu memang sudah jadi obsesi lama sy utk mengejar mimpi).

Nah mungkin saat itu ada malaikat lewat dan gemas melihat kesombongan sy. Iapun melapor pada Boss besar dan Boss sekalian alam-pun berseru: Kun faya kun…

... dan jadilah sy seperti sekarang ini. Menjalani hidup seperti ibu saya dulu, tapi di Jepang ;)

(padahal pas ketemu jodoh sama paNda, Jepang masih jauh di sebrang samudra Pasifik sana. Sumpah!)

 

Well, sy gak bohong bahwa rasa frustasi itu ada. Ingin kembali jadi diri sendiri, berkarya, berkarir, dan lainnya. Tapi sy gak mungkin akan sampai melakukan hal seperti tragedi di site sini.

Apapun diri saya saat ini, justru satu2nya yg menjadikan sy berarti hanyalah saat ini saya sedang ketitipan langsung sama Alloh: seorang anak yg harus dipelihara dgn baik, agar bisa menjadi perhiasan sy di dunia dan di akherat kelak.

 

Saya ingin mengucap salut pada semua ibu-ibu rumah tangga di seluruh dunia dan seluruh jaman. Entah kapan sy bisa mencapai taraf keikhlasan dan kesabaran serta ketrampilan seorang ibu rumah tangga sejati.

Mungkin, sy harus pulang dan berguru pada ibu saya :)

Mom, I miss you... gomen...

Dsc01477


Shonandai, end of January 2008.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

January 22, 2008

Kristal salju di atas pagar

Pagi ini salju sudi menghampiri Shonandai. Sedikit lebih tebal daripada tahun lalu.

Saya sempat memotret paNda saat akan berangkat kerja. Saya jg ingin memotret halaman depan rumah yang tampak putih tertutup salju. Tapi apa daya, sebuah truk besar menghalangi dan orang-orang lalu lalang mengangkut barang. Sepertinya salah satu tetangga apato sy akan pindah.

 

Sayapun duduk selonjoran di samping jendela, menikmati butiran salju yang melayang turun agak lebat. Sebagian menumpuk di tiang pagar. Rasanya pingiinn banget meraupnya dengan tangan ini. Segenggam kristal padat dari langit. Tapi tetangga sy itu, tengah menunggi truk tadi di dalam mobilnya. Parkir persis di depan pagar itu.

Pertama, sy males dianggep katrok banget kyk gak pernah ketemu salju (padahal iya ;p).

Kedua, sy agak malu sama mereka. Pasalnya waktu mrk baru aja gabung di apato ini, mrk mengirim sekaleng kue utk salam perkenalan. Namun sy gak melakukan apa2 utk membalasnya. Lagian, kami jarang sekali berpas-pasan di mulut apato, walaupun mobil mrk selalu parkir persis di depan kamar apato kami.

Hh… ya sudahlah. Moga2 mereka cepat selesai dan salju turun semakin tebal.

 

Sayapun menunggu. Si oKan masih tidur lelap dgn posisi nungging seperti kucing.

Sambil masak mie instan buat sarapan, sy bersenandung satu lagu anak-anak Jepang. Judulnya Yuki (Salju).

 

 

Yuki ya konko, arareya konko

Futte wa futte wa jun jun tsumoru

Yamamono haramo wa taboushikaburi

Karekinokoraju ha nagasaku


Yuki ya konko, arareya konko

Futte mo futte mo mada furiyamanu

Inu wa yorukobi ni wa kakemawari

Neko wa kotatsude marukunaru


Tepat pukul 10, truk barang dan mobil tetangga akhirnya pergi.

oKan pun terbangun.

And you know what?

 

Serabut kecil salju yang turun berubah menjadi butiran air hujan. Perlahan menyapu hamparan selimut putih di atas halaman dan pepohonan.

Sisa indomie dalam mulut sy mendadak terasa pahit.

Kristal salju di tiang pagarku, sudah menghilang…

 

 

Sonandai, 23 Januari 2008

January 18, 2008

Buat yang sayang suami ;)

Ini mulai ceritanya dari mimpi serem lho ya, jadi buat yg berani silakan baca. Mudah-mudahan bermanfaat, amien...

 

 

Bismillah.

 

Iya, tadi pagi sy mimpi serem lagi. Awalnya sih seperti lagi ngobrol sama seseorang (gak inget sosoknya), lalu tau-tau sy udah teleport ke satu dunia yg ‘hening’ di mana banyak orang berdiri sambil bercakap-cakap dengan suara pelan.

 

Tiba-tiba… suasana menjadi tegang. Seseorang berbisik,”Ada yang mau lewat.” Semua mata tampak cemas dan was-was. Seolah ada hal buruk yang akan terjadi.

Saya lalu melihat beberapa pengawal tinggi tegap bersorban datang dan memagari kami. Tak lama terbuka satu jalan melintas di sisi samping dan depan sy, deket banget.

Saya ngerasa takut tapi gak kuasa buat pindah dari tempat sy duduk (entah mungkin sy merasa sbg tamu jadi saat itu sy duduk emok dgn manis).

 

Kemudian… sy melihat beberapa perempuan (tolong jangan diartikan poligami, bisa jadi itu ibu atau saudara2 perempuannya) dan anak-anak mereka yg masih kecil (ada bayi bule segala lho, tp emaknya kyk kunti ;p) berdiri di depan sebuah jenasah besar berbungkus yg tanpa pengangkut sama sekali. Tergeletak begitu aja di atas tanah.

Mereka tampak kepayahan sekali, sampai nungging2, berusaha menyeret jenasah itu ke ‘somewhere outthere’ yg tertutup kabut di ujung jalan. Namun saat itu gak ada yg bisa membantu. Seolah mereka sengaja dibiarkan utk menjadi tontonan yg mengenaskan.

 

 

Dan saya? Tentu aja ketakutan bukan buatan! Gimana nggak, ibarat nonton konser sy ini dpt kursi VIP, deket bngt sama arak-arakan horor itu. Apalagi perempuan kunti itu mulai mendekati sy sambil memohon-mohon. Kaburlah sy tunggang langgang teleport balik ke jasad sy yg tengah berbaring kaku di atas futon.

 

Aduh mak-e… kunti itu seolah masih aja mengikuti sy. Bukan main susahnya membuat tubuh sy terbangun dr tidur. Akhirnya sambil mejem erat-erat (biar gak usah liat oni gelo itu), sy pun baca-baca doa minta kekuatan dari Alloh, trus mo baca ayat kursi tapi lupa, jadi sy baca surat An Nas. Tapi tetep sosok horor itu seakan masih nempel deket bangt sama muka sy. Akhirnya sy keluarkan deh jurus pamungkas sy yg terakhir: surat Al Fatihah (jadi malyu nih punya ilmu pas2an ;p).

 

Masyaallah, sekonyong-konyong, sy mendengar suara adzan di telinga kiri sy. Kesadaran sy pun pulih. Saya terbangun 100% dengan ingatan penuh dgn mimpi suerem yg baru saja sy alami.

 

 

Kamar hening. Si oKan boboknya gelisah, sementara paNda mendengkur dgn nikmatnya. Fiuhh... Saya pun terduduk sambil menenangkan diri dan bersyukur telah dibantu bangun dgn suara adzan yg begitu real terdengar di kuping sy barusan.

Terakhir kali denger adzan waktu sholat Idul Adha di mesjid Turki Yoyougi-Uehara kemarin lalu. Rasanya kangeun sekali dengar suara adzan. Jadi teringat waktu rumah masih di banteng, mesjid deket bngt sama rumah. Jadi kalo bulan puasa bisa denger ceramah sambil makan kolak di rumah, trus pas tarawih mau mulai buru-buru lari ke mesjid sambil ngangkat rok mukena tinggi2, hehehe…

 

Alhamdulillah, saat terbangun waktu menunjukkan pukul 5.45, sejam before sunrise hari ini waktu Yokohama. Saya sundul paNda pake kaki (ya nggaklah! diguncang secukupnya, hehe), biar ikut bangun dan jadi imam sy sholat subuh kali ini.

 

 

Setelah perasaan cukup tenang, sypun mencoba menafsirkan mimpi sy tadi. Alhamdulillah nggak serem kok. Kalo mau tau sih, menurut sy nih ya, begini…

 

 

Buat yang sayang suami (nah, akhirnya nyambung sama judul), jangan ragu utk mengajak or mengingatkan doi tentang amalan untuk di akhirat nanti. Jangan biarkan ia dengan rasa malasnya, atau mengandalkan ‘kedewasaan’-nya saja.

Bila tidak, kelak ia harus bersusah payah menyeret tubuhnya sendiri menuju ‘somewhere outthere’ itu, dan kita –yg mengakui mencintainya ini- udah terlambat utk membantunya.

Persis seperti peristiwa yg sy lihat di mimpi sy tadi. Totemo taihen desuyone… (semoga tak terjadi pada diriku ya Rabbi… hiks).

 

 

Lalu kenapa anak istri dalam rombongan itu merasa perlu membantu suaminya?

 

Mungkin, nasib mereka juga kelak ditentukan oleh nasib sang kepala keluarga di pengadilan Alloh Swt.

 

Mungkin, inilah hal yg ingin dititipkan si kunti pada sy yg naif ini, agar mau menyampaikan pesan melalui sy pada siapa saja yg masih tinggal di dunia…

 

"… buat yang sayang suami…"

 

whaaa... *kabur*

 

Shonandai, 19 January 2008

January 16, 2008

Macha Cupcake v.1

Dscf0053 Sebenernya dari adonan sisa bikin pancake buat sarapan tadi. Tapi setelah dibubuhi serbuk hijau kegemaran ane, hasilnya bener2 memabukkan. Selamat mencoba!

Lihat resep di sini.

June 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30          
Powered by Friendster Blogs